Saturday, 30 May 2026

Siswa Pintar Banyak, Siswa Sopan Makin Langka: Ada Apa dengan Sekolah Kita?

Kamis, 14 Mei 2026 | 06:14 WIB
Dirto Susanto
DIRTO SUSANTO Tim Redaksi

Subang, PC IKPM Gontor Subang – Dulu, kalau kita lihat guru lewat dari kejauhan, rasanya otomatis kaki berhenti melangkah, kepala menunduk, atau minimal merapikan baju. Ada rasa segan yang tulus. Tapi sekarang? Keadaannya berbalik 180 derajat. Seringkali justru guru yang harus menarik napas panjang dan menyiapkan “baju besi” kesabaran sebelum melangkah masuk ke kelas.

Kejadian viral siswa yang berani mengacungkan jari tengah 🖕 ke gurunya bukan sekadar kenakalan biasa. Itu tamparan keras bagi kita semua. Ini bukan cuma soal segelintir anak yang “salah pergaulan”, tapi ini cermin retak yang menunjukkan bahwa pendidikan kita sedang kehilangan jiwanya.

Bukan Salah Anak Saja – Jujur saja, karakter tidak berubah menjadi kasar dalam semalam. Ini adalah hasil dari proses panjang. Hari ini, anak-anak kita hidup di dunia di mana segalanya harus jadi konten. Guru menegur, malah direkam. Guru marah sedikit, diviralkan dengan narasi “guru kejam”.

Lama-lama, guru tidak lagi dianggap sebagai orang tua kedua atau pelita ilmu, tapi hanya dianggap sebagai “objek” tontonan. Ketika rasa hormat sudah diganti dengan syahwat ingin viral, maka runtuhlah tembok adab.

Jangan lupakan peran rumah. Anak adalah peniru yang hebat. Kalau di rumah mereka tidak pernah diajarkan cara bicara yang santun dan cara menghargai orang tua, jangan kaget kalau mereka membawa “wajah” yang sama ke sekolah.

Adab Itu di Atas Ilmu – Pendidikan kita sekarang terlalu sibuk mengejar angka-angka di atas kertas. Kita bangga kalau nilai matematika anak mencapai 100, tapi kita sering lupa bertanya: “Nak, tadi di sekolah sudahkah kamu menyapa dan menyalami gurumu?”

Kita sibuk menajamkan otak anak, tapi lupa melembutkan hatinya. Hasilnya? Kita mencetak generasi yang cerdas, tapi “dingin”. Mereka tahu teori mana yang benar, tapi tidak punya rasa sungkan untuk berbuat salah. Padahal, para ulama terdahulu selalu berpesan: “Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari suatu ilmu.”

Kenapa? Karena ilmu tanpa adab itu berbahaya. Ia hanya akan membuat pemiliknya merasa paling benar dan mudah meremehkan orang lain.

Pesan Wahyu: Adab adalah Kunci Keberkahan – Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembawa risalah Ilahi mengingatkan kita untuk memuliakan guru: “Muliakanlah orang-orang yang telah memberikan ilmu kepadamu.” (HR. Al-Mawardi)

Bahkan, beliau dengan tegas menyebutkan posisi mereka dalam barisan umatnya: “Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi yang muda, tidak menghormati yang tua, dan tidak mengetahui hak ulama kami.” (HR. Ahmad)

Lebih jauh lagi, Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Salalimul Fudhala mengingatkan dampak spiritual bagi mereka yang meremehkan guru: “Siapa saja yang meremehkan ustadznya, niscaya Allah turunkan bala pada tiga hal: ia menjadi lupa terhadap hafalannya, kelu lidahnya, dan pada akhirnya ia akan tetap membutuhkan ustadznya.”

Ini peringatan serius! Su’ul adab kepada guru berisiko menghilangkan keberkahan ilmu. Pintar secara akademis mungkin saja, tapi ilmunya tidak akan membawa manfaat bagi hidupnya.

Setan yang Berpesta di Ruang Kelas – Allah Swt. pun mengingatkan kita dalam Al-Qur’an untuk selalu menjaga lisan:_“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka…’ (QS. Al-Isra: 53)

Kalau kata-kata yang keluar dari mulut siswa sudah penuh caci maki dan isyarat tangan yang kotor, itu tandanya setan sedang “berpesta” di tempat yang seharusnya menjadi tangga menuju surga.

Mengembalikan Marwah Pendidikan – Menghukum siswa atau memanggil orang tua hanyalah obat sementara. Kita butuh perubahan arah yang total. Kita harus mengembalikan sekolah menjadi tempat “memanusiakan manusia dengan adab”, bukan sekadar pabrik penghasil ijazah.

Kita butuh anak-anak yang menghormati guru bukan karena takut dihukum, tapi karena sadar bahwa guru adalah jembatan mereka menuju cahaya ilmu. Jangan sampai masa depan kita dipenuhi oleh doktor dan insinyur yang cerdas, tapi tidak satu pun dari mereka yang tahu cara berterima kasih.

Ayo, kita kembalikan lagi rasa hormat itu. Mulai dari meja makan di rumah, hingga ke kursi-kursi di sekolah.

Editor : Media dan Publikasi PC IKPM Gontor Subang

Penulis : Buya Hasbi Nashir M, Lc., M.Pd. (Mudir Ma’had Ma’rifatussalaam)